Lanjutan..... Amtsal Tauhid

>> Friday, August 20, 2010

sebelumnya

Semua pasti tahu. Disinilah ke Maha Besar-an Allah dan kesucian Al-Qur'an dalam mengajarkan kebenaran. Ia sangat dekat dengan manusia dan segala pengalamannya. Setiap manusia yang berfikir akan mengetahui keberadaan dan fungsi masing-masing unsur pohon tersebut.
Manusia tahu, tidak akan pernah ada pohon yang tidak memiliki keberadaan dan fungsi 3 unsur pohon tersebut. Keberadaaan pohon diawali tumbuhnya akar, lalu batang dan setelah kedua unsur ini berproses pada fungsinya  masing-masing, maka menghasilkan buah. Pohon tidak pernah hidup tanpa akar dan akar tidak pernah menghasilkan buah tanpa ada batang. ini adalah pelajaran yang harus terus di ingat selama-lamanya oleh siapa saja.

Demikian gambaran singkat tentang pohon. Yang penting , bahwa pohon ini akan menjadi barometer untuk mengukur faliditas konsep Tauhid yang diangkat dari Al-Qur'an. Tentng kalimat Thayyibah yang di ilustrasikan dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah atau kalimat Tauhid. Inti tentang kalimah Tauhid adalah memahami (ma'rifat) Allah SWT. Pemahaman tentang Allah SWT ini, telah di uraikan dalam tulisan ini di awal.
Oleh karena itu, penyebutan untuk Allah SWT, sebagai Rabb, Malik dan Ilah, wujud kongkritnya memiliki kesamaan dalam keberadaan dan fungsinya, perannya, namanya seperti akar, batang dan buah.

Untuk memudahkan pemahaman dalam perumpamaan inim dapat menggunakan metrik yang hasilnya sebagai berikut :

perumpamaan
syajarah Thayibah
Amtsal Tauhid/
Kalimat Thayibah
Wujud kongkrit
Akar Rabb / RububiyahAl-Qur'an / Sunatullah
Batang Malik / MulkiyahKerajaan / Khilafah Islamiyah
Buah Ilah / UluhiyahManusia / Masyarakat Tauhid

Penjelasan dari Tabel diatas :

1. Perbandingan akar dengan Rabb atau Rububiyatullah
Akar bagi pohon mewujud si awal kehidupan dan berfungsi sebagai dasar dan sumber kehidupan bagi kelangsungan hidup pohon, Jika akar mati maka pohon akan mati.
Rububiyatullah atau Rububiyah (aturan hidup) bagi manusia mewujud atau hadir daam kehidupan manusia sebelum manusia mampu menata kehidupannya. (INGAT !!!, manusia diciptakan oleh Allah sesudah Allah menciptakan alam raya ini, dengan segala hukum-hukumnya) Dan fungsinya sebagai sumber dari segala sumber kehidupan manusia. Sebab manusia tidak akan pernah sampai pada kemapanan kebudayaan dan peradaban, tanpa adanya sebuah aturan yang di junjung tinggi.
Manusia tanpa aturan, akan menjadi masyarakat tak beradab, hidup tanpa aturan sehingga tidak tahu mana hak mana kewajiban dan lainnya. Uraian ini menunjukan, bahwa kesua-duanya ada dan berada pada awal kehidupan dan berfungsi sebagai sumber kehidupan.


2. Perbandingan batang dengan MAlik atau Mulkiyatullah
Batang bagi pohon ada dan mewujud untuk memproses suplai makanan dari akar ke tunas dan dengan proses yang terus menerus menjadi batang yang kokoh dan dengan memproses makanan yang bersumber dari akar sehingga munculnya buah.
Mulkiyatullah atau Mulkiyah (kerajaan , kekuasaan, kepemimpinan) bagi manusia ada dan mewujud sebagai proses kelanjutan dari implikasi dan pengejawantahan Rububiyah. Sebab tidak ada kekuasaan atau pemerintahan yang tidak menganut suatu ideologi, dan adanya kekuasaan diciptakan dari sentimen dan berlandaskan pada ideologi yang dianut. Negara Liberal tidak pernah ada, jika tidak muncul ideologi Liberalisme dan lain sebagainya. Fungsinya, selain sebagai proses dan jaminan atas pelaksanaan hukum dan perundang-undangan, juga sebagai tempat atau wadah yang nyata menata dan menciptakan masyarakat ideal.
Uraian diatas menunjukan, keduanya memiliki kesamaan dalam keberadaan dan sekaligus fungsinya, yaitu sebagai tempat memproses dari hal yang mendasar menjadi hasil yang muncul di permukaan.

3. Perbandingan Ilah dengan buah atau Uluhiyatullah
Buah bagi pohon adalah hasil dari sebuah proses suplai makanan dari akar yang diproses oleh batang. ia selain sebagai bukti keberhasilan dari sebuah proses berkesinambungan antara akar dan batang serta tujuan dari sebuah proses penanaman sebuah pohon. Juga berfungsi sebagai pelanjut keturunan dan perkembangan genetika sebuah pohon. Di dalamnya ada cikal bakal akar, batang dan buah.
Uluhiyah (pengabdian/ ibadah atau terbentuknya manusia dan masyarakat Tauhid) bagi manusia adalah hasil dari pelaksanaan Rububiyatullah di dalam Mulkiyatullah. Manusia tauhid atau masyarakat tauhid mewujud selain sebagai bukti berjalannya proses tersebut diatas, juga merupakan tujuan dari penciptaan manusia. INGAT !! bahwa tujuan akhir dari seluruh proses kehidupan manusia adalah ibadah. Artinya, masyarakat manusia harus berupaya menciptakan suatu kondisi yang mengantarkan dan menjaga manusia agar tetap beribadah.

selanjutnya

Read more...

AMTSAL TAUHID

>> Sunday, July 25, 2010

 sebelumnya

Dalam Al-quran tidak hanya berisi kumpulan kumpulan cerita, hukum, nasihat dan aturan-aturan dasar memahami alam semesta, namun juga memuat teori dan logika yang sangat valid. Allah SWT dalam hal ini tidak segan-segan membuat perumpamaan dalam setiap perkara besar, sekalipun perumpamaan tersebut seekor lalat. Allah tidak malu untuk membuat perumpamaan tersebut, sampai manusia memahami apa kehendak - Nya .

Tak terkecuali, masalah Tauhid yang dalam studi agama adalah masalah-masalah ketuhanan adalah masalah pokok sebelum memahami unsur lainnya. Untuk masalah tauhid ini, Allah membuat perumpamaan seperti yang tertuang dalam surat Ibrahim (14) ayat 24-25 dibawah ini :


Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim :24-25)
Pelajaran pertama yang harus diungkap adalah bahwa Allah SWT sangat memahami dan mempermudah manusia. Mengumpamakan sesuatu yang sangat penting dalam urusan dien, Allah mencontohkannya dengan sebuah pohon. Siapa manusia yang tidak kenal pohon dan siapa manusia yang tidak kenal tiga unsur pohon tersebut, yaitu akar, batang dan buah.

 

Read more...

c. Ilah

>> Friday, July 16, 2010

sebelumnya


Kalimat Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in adalah kalimat ubudiyah yang ditujukan kepada Allah sebagai Ma'bud. Ma'bud sama maknanya dengan ilah, yaitu yang di ibadahi. Ilah atau Ma'bud maknanya meliputi : yang dicintai deperti terdapat dalam Qur'an surat Al-Baqarah ayat 165, yang di ibadahi seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 138 :

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(Al Baqarah :165)
Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.(Al Baqarah :138)
Makna ilah dalam ayat tersebut, memuat rasa cinta, dan penghambaan. Cinta mampu membawa manusia pada penghambaan dan rasa aman yang luar biasa. Jika manusia telah terikat dengan rasa cinta, segala potensinya akan mampu merubah apa saja demi tercapainya penghambaan kepada yang dicintainya, sampai merasa tenteram karena pengakuannya. Oleh karena itu apa saja dilakukan demi yang dicintainya sepanjang hal tersebut memenuhu tuntutan dan ridha Nya.
Cinta didahului oleh tahu, artinya dengan ilmu. Cinta yang dilandasi oleh ilmu, tumbuh dan berkembang dengan kesadaran. Mencintai berarti tahu tentang keunggulan yang patut di cintai. Mencintai berarti ia telah mengambil resiko untuk meridhai apa yang di ridhai Nya dan membenci apa yang di benci Nya. Inilah makna penghambaan kepada Ilah. Seorang pencinta tidak akan merasa  tentram sebelum melakukan penghambaan dan berbuat sesuatu sesuai  dengan ridla yang dicintainya.
Selanjutnya, segala sesuatu yang dicintai menimbulkan keterikatan, kecanduan, kecenderungan dan ketakutan akan tidak mendapat atau kehilangan ridlo Nya, maka sesuatu itu menjadi tuhan. Dalam hal ini, rakyat demokrasi, nasionalisme kebangsaan, leluhur,sejarah, kekuasaan,pangkat, jabatan, pimpinan, harta benda, suami istri, anak dan segala bentuk ketergantungan yang menghambat cinta, penghambaan kepada Allah SWT, maka ia telah menjadi saingan Nya (Andad-Nya)
Jika hal ini mewujud dalam perasaan, pikiran, sikap dan tindakan apapun dalam diri seseorang, maka ia telah mengangkat ilah selain Allah. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka sudah nyata bahwa ilah sangat tergantung pada perasaan, pikiran, sikap dan tindakan yang mengilahkannya. jadi wujud kongkrit adanya penghambaan kepada Allah SWT adalah adanya hamba Allah yang selalu mencintai, menyerahkan penghambaan kepada Nya dan merasa tetram karena ridla Nya. Dalam bentuk nyata Tauhid Laa Ilaha Illallah adalah mewujudkan hamba hamba Allah dalam masyarakat manusia. Manusia atau masyarakat Tauhid adalah manusia atau masyarakat yang menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk perasaan, pikiran, sikap dan perilaku manusia atau masyarakat yan tidak menghambakan diri kepada Allah SWT.
Kesimpulannya, wujud nyata Allah sebagai Ilah bagi manusia adalah adanya Uluhiyatullah, yaitu terwujudnya manusia dan masyarakat yang mengabdi kepada Nya.
Demikianlah gambaran tentang Rabb, MAlik, Ilah dalam pembahasan Tauhid praktis. Kesimpulanya, Allah sebagai Rabb nampak dalam Al-Qur'an sebagai wahyu Nya. Allah sebagai Malik nampak dalam kekhalifahan dam kepemimpinan orang-orang yang beriman. Allah sebagai Ilah nampak dalam masyarakat yang menjunjung tinggi penghambaan kepada Allah, yang masyarakat Islam. Selain hal tersebut, dapat diungkapkan pula bahwa dalam surat An-naas karena Rabb, Malik dan Ilah ini tersusun berurutan tanpa penghalang apapun (tanpa huruf washal) ini menunjukan adanya kesinambungan, satu kesatuan dan integral tak terpisahkan satu sama lain.
Hal ini pula tiga kata tersebut tersusun secara berurutan dalam dua surat, menunjukan bahwa baik teori maupun dalam praktek (kehidupan nyata) harus difahami sebagai urutan urutan yang pasti. Artinya Rabb harus didahulukan, diikuti oleh Malik yang akhirnya Ilah. Disini dapat dilukiskan, manusia atau masyarakat Tauhid tidak akan muncul tanpa terlebih dahulu menegakan khalifatullah atau pemerintahan Islam, dan pemerintahan Islam tidak akan terwujud jika ideologi atau perundang undangan pemerintahan tersebut bukan wahyu Allah SWT. Inilah urutan berfikir yang di isyaratkan oleh Al-qur'an dalam mewujudkan manusia atau masyarakat Tauhid. Ini adalah ilmu pasti dan sunnah yang akan terus berjalan sepanjang masa.

selanjutnya 

Read more...

b. Malik

>> Friday, July 9, 2010

 sebelumnya

Dalam Al-Qur'an kata Malik siartikan dengan pemilik seperti terlihat dalam surat Ali Imran (3) ayat 26, dan diartikan Raja seperti terlihat dalam surat Al-Fatihah (1):3, An-Nas(114):2, Yusuf(12) ayat 76, sebagai berikut :

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Ali Imran :26)


Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.(Yusuf :76)
Dalam ayat pertama, terdapat kata malikul mulki yang artinya pemilik kerajaan dan dalam ayat kedua terdapat kata Dienul Malik yang artinya undang-undang raja. Kesimpulan kata Malik, Pemilik dan Raja.
Sudah barang tentu seorang raja pasti memiliki kerajaan dan pemilik kerajaan sudah pasti adalah seorang raja. Allah adalah Maliki Yaumidin. Artinya Dia lah Allah yang merajai dan memiliki hari pembalasan, karena setiap manusia dimintai mempertanggung jawabkan dien Allah yang telah diajarkan kepada manusia.
Allah adalah Malikin-Naas. Artinya, Dia-lah yang merajai dan memiliki manusia. Tidak ada yang patut menjadi raja dan memperbudak manusia kecuali Allah SWT. Dia adalah raja langit dan bumi (Qs.62:1)
Demikian Allah SWT, Dia adalah Raja di dunia dan juga raja di akherat. MAnusia dihadapan Allah SWT, secara umum adalah hamba dan secara khusus adalah khalifah-Nya tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, manusia tidak lebih dari sekedar pembawa amanat dari Allah (khalifatullah) untuk memimpin manusia menjadi hamba Nya, menjalankan perintah Nya, membimbing ke arah Ridha Nya dan menegakan keadilan Nya (Qs. 33:72). Berdasarkan hal ini, maka secara riil bahwa manusia harus mewujudkan kekhalifahan Allah (Qs. 24:55) dan menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk kekuasaan, kerajaan, pemerintahan dan kepemimpinan yang tidak dikehendaki Allah.

Allah telah nyata-nyata menggariskan :
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).(Al Maidah :55)
Siapapun dalam kepemimpinannya tidak satu jalur dengan tersebut diatas, maka ia adalah batil. inilah wujud kongkrit dari Tauhid Laa Malika Illallah.
Kesimpulannya, wujud nyata Allah sebagai Malik adalah adanya Mulkiyatullah, yaitu kerajaan Allah dan Khilafah Islamiyah.

selanjutnya 

Read more...

TAUHID TEORITIS DAN TAUHID TERAPAN

>> Tuesday, June 29, 2010

sebelumnya

1. Tauhid TEoritis

Tauhid teoritis dimaksudkan untuk meyakini secara mendalam tentang makna yang terkandung da;am kata Ahad atau Esa. Sebagai langkah awal, kata Ahad atau Esa dapat dipahami sebagai suatu keyakinan yang integral, tidak terbagi tetapi tunggal.
Selanjutnya Al-Qur'an memberikan penjelasan tentang kata Ahad atau Esa ini dalam surah Al-Ikhlas, sebagai berikut :


 
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlash 1:4)

Firman Allah dalam surah A-Fatihah dan surah An-Naas :
 
 
 
 
 
 
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(Al Fatihah :1-7)





 Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (An-Naas :1-6)

Kedua surat diatas secara keseluruhan ditampilkan dalam bentuk doa. Didalamnya mengajarkan tatacara doa, yaitu doa harus di dahului sengan pujian kepada Allah SWT. Ayat ke 1 sampai 5 surat Al-Fatihah berisikan pujian dan sisanya berisikan doa. Begitu pula dengan surat An-Naas, ayat ke 1 sampai  3 selain permohonan perlindungan juga berisi pujian dan penyebutan nama Allah keseluruhannya merupakan permohonan/ doa. Sedangkan doa adalah otak/ hatinya ibadah, sedang ibadah merupakan tudas hidup yang mesti direalisasikan dalam praktek. Ajaran ini menunjukan segala  sesuatu yang bersifat lebih kecil atau makhluk harus mengetahui tentang keberadaan yang Maha Besar sebelum si kecil melakukan pengabdian kepada Nya. Sebab, salah-salah, yang dianggapnya Maha Besar tidak diketahui secara riil seperti apa dan bagaimana kebesaran dari yang MAha Besar tersebut. Niat beribadah kepada Allah SWT, bisa jadi salah kaprah, justru yang di ibadahi adalah kebesaran dirinya dalam mempersepsikan (dugaan) tentang Tuhannya.

Bagian pertama surat ini, berisikan pujian kepada Nya, yaitu, dalam ayat ke 1 sampai ke 5 surat Al- Fatihah dan ayat ke 1 sampai ke 3 surat An-Naas. Di dalamnya menyebutkan 3 pokok kata Allah SWT. yaitu Rabb, Malik dan Ilah. Ketiga pokok kata sifat Allah SWT ini, tersusun dalam kesua surat ini secara berurutan. Rabb di urutan pertama, Malik urutan kedua dan urutan ketiga adalah Ilah.

a. Rabb
Kata Rabb dalam surat Al-Fatihah diikuti dengan kata al-'Alamin yang berarti seluruh alam. Dan Rabb dalam surat An-Naas diikuti dengan kata an-Naas yang berarti manusia. Al-Qur'an sendiri banyak memberikan arti dalam kata Rabb diantaranya dalam surat Al-A'raf(7) ayat 54 dan surat Ali-imran(3) ayat 64, dengan arti pencipta, pemelihara, pengatur. Sebagaimana disebutkan dalam firman Nya :

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.(Al A'raf :54)
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".(Ali Imran :64)
Ayat pertama terdapat kata Robbukum berarti yang menciptakan. Dia pencipta dan pemegang perintah segala sesuatu.
Ayat kedua terdapat kata Arbaban, yang berarti yang mengatur, Asbab nuzul ayat ini, menceritakan bahwa Bani Israil telah menjadikan para Rahib mereka menjadi pembuat hukum dan undang-undang yang mereka taati selayaknya tuhan. Jadi, Allah Rsbbul-'alamin dan Rabbun berarti adalah pengatur alam semesta dan pengatur manusia. Secara praktis dapat dipahami bahwa sebagai pemelihara dan pengatur, Allah SWT sudah pasti memiliki aturan, aturan wahyu.  Secara manusiawi terlihat dalam sejarah umat manusia, bahwa peradaban tertinggi manusia dapat dicapai dengan peraturan dalam segala bidang. ini menunjukan bahwa dengan adanya aturan, masyarakat dapat mencapai peradaban tertingginya. Dalam hal ini Allah mengatur manusia ( QS 114:2), alam semesta (QS 26:23-28) dan 'Arsy (QS 23:116). Dus, Allah adalah pengatur segala sesuatu (QS 2:164).

Penjelasan selanjutnya, Allah rabbul  'Alamin telah mengatur alam dengan ilmunya yaitu menata seluruh alam raya ini, sehingga tertata, rapih, kokoh, seimbang dan karena sangat pastinya aturan ini, tidak ada seorangpun atau apapun yang mampu merubahnya. Ilmu Allah untuk alam ini dapat diketahui oleh manusia melalui mempelajari hukum hukum alam yang berjalan tanpa perubahan, merumuskannya dan memanfaatkannya, sesuai dengan peruntukannya demi kelangsungan kehidupan manusia.(QS. 24 :43-44)

Demikianlah Allah mengatur alam, tentu berbeda dengan ketika Allah mengatur manusia. Jika aturan bagi alam melekat dalam dirinya, bersifat pasti dan tetap. mengikutinya baik rela maupun terpaksa. Maka aturan bagi manusia selain dalam dirinya, juga diberikan suatu aturan yang sama pastinya dengan hukum alam, yaitu wahyu. Dalam hal ini manusia diberi kebebasan untuk mengikutinya atau menolaknya. Yang jelas, kedua aturan tersebut (aturan alam dan manusia) kedua-duanya memiliki kepastian yang sama, artinya manusia tidak akan sanggup merubah hukum dan konsekuensi hukuman bagi yang melanggarnya.
Contoh : Jika hukum alam mengatakan bahwa air dapat mendidih dengan 90 derajata celcius, maka manusia tidak akan pernah mampu mendidihkan dengan suhu 89.9 derajat celcius. Hal ini sama dengan manusia tidak akan pernah bisa hidup dalam keadilan tanpa memenuhi syarat-syarat  keadilan dengan memenuhu aturan yang ada dalam Al-qur'an. Contoh riil , zina selamanya akan menjadi jalan terburuk bagi kelangsungan hidup manusia, dan tidak ada manusia yang mampu merubah jalan zina ini menjadi jalan baik.

Berdasarkan hal ini, nyatalah bahwa Allah adalah Robbul 'Alamin dan Rabbin Nas. Oleh karena itu, pengakuan manusia terhadap Allah sebagai pengatur dirinya, harus mengakui Al-Qur'an sebagai wahyu dari Nya, sebagai satu-satunya aturan yang hanya boleh mengatur dirinya (Qs. 16:89, 6:38). Inilah makna pengakuan Tauhid LAa Rabba Ilallah. Artinya, ia harus menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk hukum, ideologi, perundang-undangan dan adat-istiadat yang tidak dibangun berdasarkan wahyu Allah.

kesimpulan, wujud nyata Allah sebagai Rabb adalah adanya Rububiyatullah, yaitu hukum alam dan wahyu Allah (Al-Qur'an)

selanjutnya

Read more...

MA'RIFATULLAH

>> Monday, June 21, 2010

 sebelumnya

A. Pengantar

Dalam pandangan Allah Swt, mengetahui tentang diri- Nya adalah wajib. Hal ini terlihat dalam firman- Nya :

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (Muhammad :19)
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. (Al Ikhlash :1)

Ayat diatas menunjukan perintah untuk mengetahui dan perintah untuk mengatakan. Dua perintah ini menegaskan bahwa mengetahui Allah dan memberitahukan tentang Allah adalah wajib. Ayat ini selainnya menunjukan wajibnya, juga memuat materi apa yang harus diketahui tentang Allah. Berdasarkan dua ayat ini, Allah adalah satu (Esa), yaitu tidak ada Ilah kecuali Allah atau Laa Ilaha Ilallah. Jadi untuk mengenal Allah, terletak pada kata Laa Ilaha Ilallah. Dalam ilmu tauhid kalimat ini disebut kaimat TAuhid atau kalimat Thayyibah.

selanjutnya 

Read more...

POLA HIDUP MANUSIA SEPANJANG SEJARAH

>> Monday, May 31, 2010

sebelumnya

Allah SWT berfirman :

 
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.(Al Insaan :2-3)

Di dalam menyikapi nikmat yang Allah berikan kepada Nya, manusia terpecah menjadi dua : ada yang bersyukur dan ada yang kafir.
Orang-orang yang bersyukur itu adalah mu'min muttaqin. Mereka mempergunakan nikmat-nikmat itu untuk menunjang terpenuhinya kewajiban-kewajiban yang telah dperintahkan kepadanaya.
Sedangkan orang yng kafir mendapat nikmat daari Allah  untuk menentang kehendaak Allah. Orang yang kafir ini terbagi menjadi dua, yaitu :
(1) yang dengan jelas dan terang-terangan menyatakan kafir kepada Allah, dan
(2) yang menampakan keimanan sedangkan dalam hatinya ingkar, mereka adalah rang-orang munafik.


A. Pola hidup orang mu'min muttaqin


Mereka berjalan diatas petunjuk Alah Shirathal Mustaqim. Senantiasa dilaksanakan dan menjaga syariat-syariat Allah, menegakkan shalat, menginfaqkan hartanya ke jalan Allah mengimani kitab-kitab Nya dan mengimani hari akherat. Allah membimbing golongan ini karena ketaqwa'annya di atas petunjuk Nya dan memasukkannya ke dalam surga Nya.
Allah SWT berfirman :


 
 
 
 
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.(Al Baqarah :2-5)

Orang-orang mu'min mutaqin rela mengorbankan seluruh hidupnya (baik harta dan jiwa)untuk mencapai keridhaan Allah
Sebagaimana ayat dibawah ini :


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.  ( Al Baqarah :207 )



(B) Pola hidup orang kafir


Orang-orang kafir menjalani hidupnya dengan menolak wahyu (petunjuk) Allah dan lebih memilih idelogi sesatnya. Mereka adalah orang yang tidak mau mendengarkan peringatan , sebagaimana firman Allah :

 
 
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. ( Al Baqarah :6-7 )

Mereka mengikuti jejak para penentang kebenaran, iblis la'natullah, Fir'aun, Namrud, Abu Jahal dan lain-lain dengan menyombongkan diri, menolak wahyu Allah dan membuat kerusakan di bumi.
Mereka senantiasa menentang Allah, dengan membuat tandingan-tandingan yang mereka sembah (agung-agungkan) dengan penuh kecintaan. Karena kekafirannya itu, Allah menutup hati mereka, membutakan mata mereka, menggiring mereka diatas jalan yang sesat dan memasukkannya ke dalam neraka jahannam, satu tempat kembali yang buruk.

Allah SWT berfirman :

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al Baqarah :165)

(C) Pola hidup Orang Munafik

 Orang-orang munafik secara lahiriyah beriman kepada Allah Rasul-Nya, dan hari Akherat. Keimanannya ia persaksikan dengan sebenar-benarnya tetapi mereka bukanlah orang yang beriman. Dengan ini, mereka hidup ditengah-tengah kaum mu'minin. Mereka juga mendengar wahyu-wahyu Allah yang  disampaikan namun karena hatinya berpenyakit, wahyu itu tidak bermanfaat sedikitpun.
Orang-orang munafik ini tidak memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi kepada Islam, sehingga mereka rela  menukar hidayah Allah sengan syetan. Mereka tetap loyal kepada  syetan-syetan mereka (musuh-musuh Allah) mengadakan makar untuk menghancurkan Islam. Pola hidup munafik ini dengan jelas diterangkan dalam surat Al-baqarah, sebagai berikut :


 
 
 
 
 
 
 
 
 
Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.   Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (Al Baqarah :8-16)
Allah telah memberikan perumpamaan tentang pola hidup mereka itu, dalam ayat yang sangat indah :

 
 
 
 
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah :17-20)
Betapa orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari wahyu-wahyu Allah (hujan) ang senantiasa diturunkan, karena keragu-raguan yang ada dalam hatinya. Yan mereka tangkap hanyalah kerasnya suara guntur yang memekakan telinganya dan kilatan petir yang seakan membutakan matanya, ia menutup telinga dengan telunjuknya, sehingga tuli dan tidak mendengar perngatan Allah yang terkandung di dalamnya.
Golongan ini, beribadah kepada Allah berada di tepian, bergerak sesuai dengan situasi dan kondisi. Sekiranya menguntungkan, maka  ia tetap dalam kondisi itu, tetaaapi manakala ia pandang merugikan dirinya, maka ia mundur kebelakang. MEreka terombang ambing di daam keragu-raguan dan Allah memasukkan mereka ke dalam neraka jahanam.


 
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.  (Al Hajj :11)

selanjutnya 

Read more...

Teman

http://semodir.blogspot.com/. Powered by Blogger.

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP