c. Ilah

>> Friday, July 16, 2010

sebelumnya


Kalimat Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in adalah kalimat ubudiyah yang ditujukan kepada Allah sebagai Ma'bud. Ma'bud sama maknanya dengan ilah, yaitu yang di ibadahi. Ilah atau Ma'bud maknanya meliputi : yang dicintai deperti terdapat dalam Qur'an surat Al-Baqarah ayat 165, yang di ibadahi seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 138 :

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(Al Baqarah :165)
Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.(Al Baqarah :138)
Makna ilah dalam ayat tersebut, memuat rasa cinta, dan penghambaan. Cinta mampu membawa manusia pada penghambaan dan rasa aman yang luar biasa. Jika manusia telah terikat dengan rasa cinta, segala potensinya akan mampu merubah apa saja demi tercapainya penghambaan kepada yang dicintainya, sampai merasa tenteram karena pengakuannya. Oleh karena itu apa saja dilakukan demi yang dicintainya sepanjang hal tersebut memenuhu tuntutan dan ridha Nya.
Cinta didahului oleh tahu, artinya dengan ilmu. Cinta yang dilandasi oleh ilmu, tumbuh dan berkembang dengan kesadaran. Mencintai berarti tahu tentang keunggulan yang patut di cintai. Mencintai berarti ia telah mengambil resiko untuk meridhai apa yang di ridhai Nya dan membenci apa yang di benci Nya. Inilah makna penghambaan kepada Ilah. Seorang pencinta tidak akan merasa  tentram sebelum melakukan penghambaan dan berbuat sesuatu sesuai  dengan ridla yang dicintainya.
Selanjutnya, segala sesuatu yang dicintai menimbulkan keterikatan, kecanduan, kecenderungan dan ketakutan akan tidak mendapat atau kehilangan ridlo Nya, maka sesuatu itu menjadi tuhan. Dalam hal ini, rakyat demokrasi, nasionalisme kebangsaan, leluhur,sejarah, kekuasaan,pangkat, jabatan, pimpinan, harta benda, suami istri, anak dan segala bentuk ketergantungan yang menghambat cinta, penghambaan kepada Allah SWT, maka ia telah menjadi saingan Nya (Andad-Nya)
Jika hal ini mewujud dalam perasaan, pikiran, sikap dan tindakan apapun dalam diri seseorang, maka ia telah mengangkat ilah selain Allah. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka sudah nyata bahwa ilah sangat tergantung pada perasaan, pikiran, sikap dan tindakan yang mengilahkannya. jadi wujud kongkrit adanya penghambaan kepada Allah SWT adalah adanya hamba Allah yang selalu mencintai, menyerahkan penghambaan kepada Nya dan merasa tetram karena ridla Nya. Dalam bentuk nyata Tauhid Laa Ilaha Illallah adalah mewujudkan hamba hamba Allah dalam masyarakat manusia. Manusia atau masyarakat Tauhid adalah manusia atau masyarakat yang menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk perasaan, pikiran, sikap dan perilaku manusia atau masyarakat yan tidak menghambakan diri kepada Allah SWT.
Kesimpulannya, wujud nyata Allah sebagai Ilah bagi manusia adalah adanya Uluhiyatullah, yaitu terwujudnya manusia dan masyarakat yang mengabdi kepada Nya.
Demikianlah gambaran tentang Rabb, MAlik, Ilah dalam pembahasan Tauhid praktis. Kesimpulanya, Allah sebagai Rabb nampak dalam Al-Qur'an sebagai wahyu Nya. Allah sebagai Malik nampak dalam kekhalifahan dam kepemimpinan orang-orang yang beriman. Allah sebagai Ilah nampak dalam masyarakat yang menjunjung tinggi penghambaan kepada Allah, yang masyarakat Islam. Selain hal tersebut, dapat diungkapkan pula bahwa dalam surat An-naas karena Rabb, Malik dan Ilah ini tersusun berurutan tanpa penghalang apapun (tanpa huruf washal) ini menunjukan adanya kesinambungan, satu kesatuan dan integral tak terpisahkan satu sama lain.
Hal ini pula tiga kata tersebut tersusun secara berurutan dalam dua surat, menunjukan bahwa baik teori maupun dalam praktek (kehidupan nyata) harus difahami sebagai urutan urutan yang pasti. Artinya Rabb harus didahulukan, diikuti oleh Malik yang akhirnya Ilah. Disini dapat dilukiskan, manusia atau masyarakat Tauhid tidak akan muncul tanpa terlebih dahulu menegakan khalifatullah atau pemerintahan Islam, dan pemerintahan Islam tidak akan terwujud jika ideologi atau perundang undangan pemerintahan tersebut bukan wahyu Allah SWT. Inilah urutan berfikir yang di isyaratkan oleh Al-qur'an dalam mewujudkan manusia atau masyarakat Tauhid. Ini adalah ilmu pasti dan sunnah yang akan terus berjalan sepanjang masa.

selanjutnya 

Read more...

Teman

http://semodir.blogspot.com/. Powered by Blogger.

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP